Semakin lama dunia ini semakin hilang keseimbangannya,terutama keseimbangan alam yang semakin tak karuan karen ulah manusia yang serakah.akibat dari ulah mereka tuhan murka kepada manusia.dalam alqur'an kita diutus untuk melestarikan alam.
Manusia, harus mampu menjaga harmonitas segi tiga keseimbangan ekologi: dirinya (manusia), hewan dan tumbuhan. Manusia, seperti disinggung sebelumnya, adalah wakil Allah (khalīfah) di permukaan bumi (Qs. 2: 30). Karena sebagai khalīfah, maka dia harus bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnnya, sebagai pengganti Allah dalam memelihara keseimbangan ekologi. Dia harus memahami fitrahnya yang mengerti maslahat dan kebutuhannya (Qs. 67: 14). Dengan akal yang diciptakan oleh Allah untuknya, dia bisa membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan serta teknologi, supaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan tugasnya tersebut (Qs. 7: 74).
Dengan bekal itu semua, manusia harus tampil sebagai sosok yang ‘ramah lingkungan’. Dalam Islam, khalīfah adalah ‘manusia hijau’. Yaitu sosok yang benar-benar melindungi dan memelihara lingkungan hidupnya. Dalam hal ini, konsep ihsān dapat dijadikan sebagai landasan normatif-teologis dalam menciptakan harmonitas manusia dan lingkungan hidup.
Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa ihsān adalah “engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa dia –dalam ibadahmu—sedang melihatmu.” Ihsān disini dapat diartikan sebagai sikap ramah (baik), yang berarti melindungi dan memelihara dengan baik. Di sini, konteks ihsān dalam ibadah. Pemeliharaan lingkungan dapat menjadi ibadah, karena memelihara lingkungan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Ketika lingkungan dipelihara dan dijaga dengan baik, maka dia menjadi ibadah di hadapan Allah.
Orang yang tidak mengerti konsep ini, akan merusak lingkungannya. Maka banyak terjadi penggundulan hutan besar-besaran, buang sampah sembarangan, dll. Akhirnya, erosi terjadi dimana-mana. Sungai-sungai banyak yang meluap dan merusak pemukiman masyarakat. Pada gilirannya, lingkungan tak lagi bersahabat dengan manusia. Ini akibat dari menjauhkan Allah dari ranah dan lini kehidupan.
Konsep ihsān yang kedua adalah dalam Qs. 4: 36. Dimana ihsān di sini dimaknai dengan memperhatikan, menyayangi, merawat, dan menghormati. Dalam konteks ini, Islam menuntut manusia agar memperhatikan, menyayangi, merawat dan menghormati lingkungan. Dua konsep ihsān tersebut pada realitanya memang diperlukan oleh manusia dalam konteks interaksi dengan lingkungan. Karena, memang, kita wajib memperlakukan lingkungan dengan cara melindungi dan menjaganya. Bukan malah kita remehkan, lalaikan, serta musnahkan. Jika ini yang berlaku, yang terjadi adalah kerusakan lingkungan hidup yang terjadi dimana-mana. Itu semua, kata Allah, karena ulah tangan-tangan jahil manusia. Padahal, itu semua bukan azab mutlak, melainkan peringatan agar manusia merasakan hasil perbuatan jahilnya. Karena Allah berharap manusia-manusia jahil terhadap lingkungannya dapat kembali lagi (Qs. 30: 41). Di samping itu, ihsān sejatinya adalah perbuatan baik yang tanpa batas. Artinya, perhatian terhadap segala sesuatu, baik hidup maupun mati, adalah tanpa perhitungan alias tak terhingga. Karena prinsip untuk bersikap lemah lembut berlaku bagi setiap elemen lingkungan, baik makhluk hidup maupun makhluk mati, serta yang berakal maupun yang tidak berakal. Dengan kata lain: prinsip untuk bersikap ihsān ini mencakup manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk mati.
Adapun mengenai hadits Rosulullah S.a.w tentang peduli lingkungan ini banyak sekali, salah satu diantaranya sebagai berikut :
حَدِيْثُ
جَابِرِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ رضى الله عنهما, قَالَ : كَانَتْ لِرِجَالٍ
مِنَّا فُضُوْلُ اَرَضِيْنَ, فَقَالُوْا نُؤَاجِرُهَا بِالثُّلُثِ
وَالرُّبُعِ وَالنِّصْفِ, فَقَالَ النَّبِىُّ ص.م. : مَنْ كَانَتْ لَهُ
اَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا اَوْلِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِنْ أَبَى
فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.
“ Hadist
Jabir bin Abdullah r.a. dia berkata : Ada beberapa orang dari kami
mempunyai simpanan tanah. Lalu mereka berkata: Kami akan sewakan tanah
itu (untuk mengelolahnya) dengan sepertiga hasilnya, seperempat dan
seperdua. Rosulullah S.a.w. bersabda: Barangsiapa ada memiliki tanah,
maka hendaklah ia tanami atau serahkan kepada saudaranya (untuk
dimanfaatkan), maka jika ia enggan, hendaklah ia memperhatikan sendiri
memelihara tanah itu. “ (HR. Imam Bukhori dalam kitab Al-Hibbah)
Selain dari hadits diatas, ada juga bersumber dari Abu Hurairah r.a. dengan lafazd sebagai berikut :
حَدِيْثُ
أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قال: قال رسول الله عليه وسلم : مَنْ
كَانَتْ لَهُ اَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا اَوْلِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِنْ
أَبَى فَلْيُمْسِكْ أَرْضَهُ.(اخرجه البخارى فى كتاب المزاعة)
Antara
kedua tersebut terdapat persamaan, yaitu masing-masing ditakhrijkan
oleh Imam Bukhori. Sedangkan perbedaannya adalah sumber hadits tersebut
dari Jabir yang diletakkan dalam kitab Al-Hibbah yang satunya bersumber
dari Abu Hurairah dan diletakkan dalam kitab Al-Muzara’ah.
Dari
ungkapan Nabi S.a.w. dalam hadits diatas yang menganjurkan bagi pemilik
tanah hendaklah menanami lahannya atau menyuruh saudaranya (orang lain)
untuk menanaminya. Ungkapan ini mengandung pengertian agar manusia
jangan membiarkan lingkungan (lahan yang dimiliki) tidak membawa manfaat
baginya dan bagi kehidupan secara umum. Memanfaatkan lahan yang kita
miliki dengan menanaminya dengan tumbuh-tumbuhan yang mendatangkan hasil
yang berguna untuk kesejahteraan pemiliknya, maupun bagi kebutuhan
konsumsi orang lain. Hal ini merupakan upaya menciptakan kesejahteraan
hidup melalui kepedulian terhadap lingkungan. Allah S.w.t. telah
mengisyaratkan dalam Al-Qur’an supaya memanfaatkan segala yang Allah
ciptakan di muka bumi ini. Isyarat tersebut seperti diungkapkan dalam
firman-Nya:
“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu semua.” (Qs. Al-Baqoroh : 29)
Dalam
hadits dari Jabir di atas menjelaskan bahwa sebagian para sahabat Nabi
S.a.w. memanfaatkan lahan yang mereka miliki dengan menyewakan lahannya
kepada petani. Mereka menatapkan sewanya sepertiga atau seperempat atau
malahan seperdua dari hasil yang didapat oleh petani. Dengan adanya
praktek demikian yang dilakukan oleh para sahabat, maka Nabi meresponnya
dengan mengeluarkan hadits diatas, yang intinya mengajak sahabat
menanami sendiri lahannya atau menyuruh orang lain mengolahnya apabila
tidak sanggup mengolahnya. Menanggapi permasalahan sewa lahan ini, para
ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya.
Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid
menjelaskan bahwa segolongan fuqoha tidak membolehkan menyewakan tanah.
Mereka beralasan dengan hadits Rafi’ bin Khuday yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhori dalam kitab Al-Muzara’ah :
اَنَّ النَّبِى ص.م. نَهَى عَنْ كَرَاءِ الْمَزَارَعِ. (رواه البخارى)
“ Bahwasanya Nabi S.a.w. melarang menyewakan lahan “ (HR. Bukhori)
Sedangkan
jumhur ulama membolehkan, tetapi imbalan sewanya haruslah dengan uang
(dirham atau dinar) selain itu tidak boleh. Ada lagi yang berpendapat
boleh dengan semua barang, kecuali makanan termasuk yang ada dalam lahan
itu. Berbagai pendapat yang lain seperti yang dikemukakan Ibnu Rusyd
bahwa dilarang menyewakan tanah itu lantaran ada kesamaran didalamnya.
Sebab kemungkinan tanaman yang diusahakan di atas tanah sewaan itu akan
tertimpa bencana, baik karena kebakaran atau banjir. Dan akibatnya si
penyewa harus membayar sewa tanpa memperoleh manfaat apapun daripadanya.
Terkait dengan hadits diatas, disini Rosulullah S.a.w. juga bersabda dalam kitab Al-Lu’lu’ wal Marjan tentang menyerahkan tanah kepada orang untuk dikerjakan kemudian memberikan sebagian hasilnya :
حَدِيْثُ
ابْنُ عُمَرَ رضى الله عنه, اَنَّ النَّبِىَ ص.م. عَامَلَ خَيْبَرَ
بِشَرْطٍ مَايَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ اَوْزَرْعٍ, فَكَانَ يُعْطِى
اَزْوَاجَهُ مِائَةَ وِسْقٍ: ثَمَانُوْنَ وِسْقَ تَمْرٍ, وَعِشْرُوْنَ
وِسْقَ شَعِيْرٍ : فَقَسَمَ عُمَرُ خَيْبَرَ فَخَيَّرَ اَزْوَاجَ
النَّبِىِّ ص.م. اَنْ يُقْطِعَ لَهُنَّ مِنَ الْمَاءِ وَالاَرْضِ اَوْ
يُمْضِىَ لَهُنَّ فَمِنْهُنَّ مَنِ اخْتَارَ الاَرْضَ وَمِنْهُنَّ مَنِ
اخْتَارَ الوَسْقَ, وَكَانَتْ عَائِشَةُ اخْتَارَتِ الاَرْضَ. (اخرجه
البخارى)
“ Ibnu
Umar r.a. berkata : Nabi S.a.w. menyerahkan sawah ladang dan tegal di
khaibar kepada penduduk Khaibar dengan menyerahkan separuh dari
penghasilannya berupa kurma atau buah dan tanaman, maka Nabi S.a.w.
memberi istri-istrinya seratus wasaq (1 wasaq=60 sha’. 1 sha’ =4 mud
atau 2 ½ Kg), delapan puluh wasaq kurma tamar, dan dua puluh wasaq
sya’er (jawawut). Kemudian dimasa Umar r.a. membebaskan kepada
istri-istri Nabi S.a.w. untuk memilih apakah minta tanahnya atau tetap
minta bagian wasaq itu, maka diantara mereka ada yang memilih tanah dan
ada yang minta bagian hasilnya berupa wasaq.” (HR. Bukhori)
2. Penanaman Pohon (reboisasi) Langkah Terpuji
حَدِيْثُ
اَنَسٍ رضى الله عنه قَالَ: مَامِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ اَوْيَزْرَعُ
زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ اَوْاِنْسَانٌ اَوْبَهِيْمَةٌ
اِلاَّكَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ. (اخرجه البخارى فى كتاب المزاعة)
“ Hadits
dari Anas r.a. dia berkata: Rosulullah S.a.w. bersabda : Seseorang
muslim tidaklah menanam sebatang pohon atau menabur benih ke tanah, lalu
datang burung atau manusia atau binatang memakan sebagian daripadanya,
melainkan apa yang dimakan itu merupakan sedekahnya “. (HR. Imam Bukhori)
Pada
dasarnya Allah S.w.t. telah melarang kepada manusia agar tidak merusak
hutan, hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqoroh ayat 11 :
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَتُفْسِدُوْا فِى الاَرْضِ…
“ Dan apabila dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi “
Dan ada lagi dalam surat Al-Baqoroh ayat 204-205:
“
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia
menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi
hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia
berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan
padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak
menyukai kebinasaan.”
Dalam
ayat diatas, Allah menjelaskan sifat-sifat orang munafiq dan
tindakannya di muka bumi ini. Informasi yang disampaikan Al-Qur’an bahwa
sebagian dari manusia, kata-kata dan ucapannya tentang kehidupan dunia
menarik sekali, sehingga banyak yang terpedaya. Ia pintar dan pandai
menyusun kata-kata dengan gaya yang menawan. Orang munafiq seperti
inilah yang selalu merusak bumi. Tanam-tanaman dan hutan-hutan menjadi
rusak, lingkungan dicemari, buah-buahan dan binatang ternak dibinasakan.
Apalagi kalau mereka sedang berkuasa, dimana-mana mereka berbuat sesuka
hatinya.
Gambaran ayat ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 41-42 :
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan
tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka
itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Pada
ayat ini sudah jelas bahwa Allah telah memperingatkan tentang kerusakan
yang terjadi di alam dunia ini, baik di darat, laut maupun udara adalah
akibat ulah perbuatan manusia itu sendiri. Kerusakan di darat seperti
rusaknya hutan, hilangnya mata air, tertimbunnya danau-danau penyimpan
air, lenyapnya daerah-daerah peresap air hujan dan sebagainya. Kerusakan
di laut seperti pendangkalan pantai, menghilangkan tempat-tempat sarang
ikan, pencemaran air laut karena tumpahan minyak, dan lain sebagainya.
Allah memperingatkan itu, karena dampak negatifnya akan dirasakan
manusia itu sendiri.
Tidak
sepantasnyalah alam ini dirusak karena ini merupakan salah satu karunia
Tuhan, untuk itu seharusnyalah manusia harus memperbaiki dan
memanfaatkannya, hal ini sebagaimana firman Allah S.w.t. dalam surat
Al-An’am ayat 141-142 yang artinya:
“
Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama
(rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia
berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Dan di
antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada
yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang Telah diberikan Allah
kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dekade
terakhir ini, pemerintah Indonesia terus melancarkan program
penghijauan. Oleh karena itu, dimana-mana kita akan melihat reklame dan
promosi penghijauan, baik melalui media visual, maupun audio-visual.
Promosi ini banyak terpajang di sudut-sudut jalan, dan tertempel di
mobil-mobil dan lainnya yang mengajak kita menyukseskan program
tersebut. Khusus Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintahnya telah
mencanangkan program penghijauan dengan tema "South Sulawesi Go Green" (Sulawesi Selatan Menuju Penghijauan). Sebagian orang menyangka bahwa program penghijauan
bukanlah suatu amalan yang mendapatkan pahala di sisi Allah, sehingga
ada diantara mereka yang bermalas-malasan dalam mendukung program
tersebut. Kita mungkin masih mengingat sebuah hadits yang masyhur dari
Nabi Saw. beliau bersabda:
"Jika
seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya,
kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya),
ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan
baginya". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]
Perhatikan,
satu diantara perkara yang tak akan terputus amalannya bagi seorang
manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah SEDEKAH JARIYAH,
sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang. Para ahli ilmu
menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya,
seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau
jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman
pangan, dan lainnya. Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang
kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah
meninggal- selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.
Al-Imam Ibnu Baththol -rahimahullah- berkata: "Ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala". [Lihat Syarh Ibnu Baththol (11/473)]
Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-,
sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan
hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam
lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan
haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab
tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.
Penghijauan
merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di
dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. Tanaman dan pohon
yang ditanam oleh seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon
itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah dan
daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai
macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir,
daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga
bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi
lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat
tanaman dan pohon yang tidak sempat kita sebutkan di lembaran sempit
ini. Jika demikian banyak manfaat dari REBOISASI, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya.
3. Harmonitas Manusia, Hewan dan Tumbuhan
Manusia, harus mampu menjaga harmonitas segi tiga keseimbangan ekologi: dirinya (manusia), hewan dan tumbuhan. Manusia, seperti disinggung sebelumnya, adalah wakil Allah (khalīfah) di permukaan bumi (Qs. 2: 30). Karena sebagai khalīfah, maka dia harus bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnnya, sebagai pengganti Allah dalam memelihara keseimbangan ekologi. Dia harus memahami fitrahnya yang mengerti maslahat dan kebutuhannya (Qs. 67: 14). Dengan akal yang diciptakan oleh Allah untuknya, dia bisa membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan serta teknologi, supaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan tugasnya tersebut (Qs. 7: 74).
Dengan bekal itu semua, manusia harus tampil sebagai sosok yang ‘ramah lingkungan’. Dalam Islam, khalīfah adalah ‘manusia hijau’. Yaitu sosok yang benar-benar melindungi dan memelihara lingkungan hidupnya. Dalam hal ini, konsep ihsān dapat dijadikan sebagai landasan normatif-teologis dalam menciptakan harmonitas manusia dan lingkungan hidup.
Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa ihsān adalah “engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa dia –dalam ibadahmu—sedang melihatmu.” Ihsān disini dapat diartikan sebagai sikap ramah (baik), yang berarti melindungi dan memelihara dengan baik. Di sini, konteks ihsān dalam ibadah. Pemeliharaan lingkungan dapat menjadi ibadah, karena memelihara lingkungan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Ketika lingkungan dipelihara dan dijaga dengan baik, maka dia menjadi ibadah di hadapan Allah.
Orang yang tidak mengerti konsep ini, akan merusak lingkungannya. Maka banyak terjadi penggundulan hutan besar-besaran, buang sampah sembarangan, dll. Akhirnya, erosi terjadi dimana-mana. Sungai-sungai banyak yang meluap dan merusak pemukiman masyarakat. Pada gilirannya, lingkungan tak lagi bersahabat dengan manusia. Ini akibat dari menjauhkan Allah dari ranah dan lini kehidupan.
Konsep ihsān yang kedua adalah dalam Qs. 4: 36. Dimana ihsān di sini dimaknai dengan memperhatikan, menyayangi, merawat, dan menghormati. Dalam konteks ini, Islam menuntut manusia agar memperhatikan, menyayangi, merawat dan menghormati lingkungan. Dua konsep ihsān tersebut pada realitanya memang diperlukan oleh manusia dalam konteks interaksi dengan lingkungan. Karena, memang, kita wajib memperlakukan lingkungan dengan cara melindungi dan menjaganya. Bukan malah kita remehkan, lalaikan, serta musnahkan. Jika ini yang berlaku, yang terjadi adalah kerusakan lingkungan hidup yang terjadi dimana-mana. Itu semua, kata Allah, karena ulah tangan-tangan jahil manusia. Padahal, itu semua bukan azab mutlak, melainkan peringatan agar manusia merasakan hasil perbuatan jahilnya. Karena Allah berharap manusia-manusia jahil terhadap lingkungannya dapat kembali lagi (Qs. 30: 41). Di samping itu, ihsān sejatinya adalah perbuatan baik yang tanpa batas. Artinya, perhatian terhadap segala sesuatu, baik hidup maupun mati, adalah tanpa perhitungan alias tak terhingga. Karena prinsip untuk bersikap lemah lembut berlaku bagi setiap elemen lingkungan, baik makhluk hidup maupun makhluk mati, serta yang berakal maupun yang tidak berakal. Dengan kata lain: prinsip untuk bersikap ihsān ini mencakup manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk mati.
C. Kesimpulan
Untuk memudahkan dalam makalah yang sederhana ini, berikut kami tampilkan sebuah kesimpulan sebagai berikut :
- Hadist Jabir bin Abdullah r.a. ini merupakan larangan menelantarkan lahan, karena hal ini termasuk perbuatan yang tidak bermanfaat.
- Dalam menelantarkan lahan, Rosulullah S.a.w. menyarankan untuk memanfaatkan dan mengupah orang lain untuk mengelolahnya.
- Reboisasi adalah merupakan salah satu perbuatan yang terpuji.
- Allah S.w.t. menggambarkan kerusakan alam merupakan akibat dari ulah manusia itu sendiri.
- Alam di dunia ini rusak diakibatkan ulah dari perbuatan manusia yang munafiq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar